Langsung ke konten utama

AKSI

Aksi..kenapa mesti aksi sih? Emang kalau kamu aksi teriak-teriak di jalan gitu pemerintah bakalan denger apa? Gak bisa dengan cara elegan dikit misale dengan tulisan atau gimana gitu? Gak usah deh pake aksi-aksi segala.. Apalagi orang tua pasti gak suka anaknya ikut-ikutan demo atau aksi atau apalah itu, apalagi cewek. Sudahlah jadi anak baik saja, rajin belajar, gak usah sok-sokan ngurusi negara, baru jadi mahasiswa aja udah sok-sokan, nanti kalau belajar yang rajin terus IPK nya cumlaud, mau jadi DPR, Menteri atau Presiden atau apalah terserah, juga bisa kan? Gak usah lah ikutan aksi atau demo-demo segala, enggak keren...

Sempat terpikir juga dulu ketika aku masih pakai seragam biru putih, liat orang-orang turun ke jalan dengan membakar ban, dan sebagainya rasanya sudah illfeel duluan. Hohohohoho..

Tapi pemikiran itu berubah sekarang. Aksi itu cara paling elegan buat nyalurin aspirasi hehehehe...saya bukan mau sok menggurui sok tahu atau apalah, karena saya bukanlah orang pandai menganalisis kondisi perpolitikan negara, cuma pengen berpendapat aja sih, kalau aksi itu gak seburuk yang kalian kira kok... justru,, orang pinter ber orasi itu keliatan keren banget, kayak Soekarno gitu deh, kata-katanya mempengaruhi jutaaan rakyat...

Hohoho..jadi kenapa harus aksi? Dengan jumlah masa yang tidak sedikit, beriringan menuju kantor DPR, atau di depan istana negara atau dimana pun, dimana bisa tersampaikan apa yang ingin disalurkan kepada pejabat. Ada aksi pasti ada tuntutan dan sesuatu yang ingin disampaikan, selain ditujukan kepada para wakil rakyat, aksi juga sebagai salah media untuk memberitahukan kepada rakyat bahwa negara kita sedang tidak baik-baik saja. Bahwa kadang ada yang tersembunyi dari masyarakat, dimana masyarakat hanya melihat kondisi negara dari media, dan bisa jadi media itu berpihak pada sesuatu, bisa jadi. 

 Jadi pesan kepada masyarakat setanah air, jangan diliat rusuhnya doang, coba dengerin apa tuntutannya apa yang mau disampaikan. Emang sih, aksi itu gak semerta-merta langsung dapat tanggapan dari yang bersangkutan, atau bahkan tidak diindahkan sama sekali sama "Pak Pejabat yang terhormat" boro-boro tuntutan terpenuhi, untuk mau diajak diskusi aja terkadang gak ada yang mau turun. 

Terus? Apa gunanya doang aksi? Udah capek turun ke jalan, panas teriak-teriak, kadang kudu ngorbanin kuliah juga (hohoho), yang kalau aksi, pasti ada media, media pasti meliput (dan harus ada media) setelah meliput, nah, kan nanti ditulis juga di berita, dibaca deh sama bapak pejabat yang terhormat noh. Nah kan, kembalinya ke tulisan juga kan?  iyee juga sih yaa,,tapi kalau dari aksi biasanya sih lebih didengar. Kalau ngirim tulisan yang mengkritik sedikit, bisa jadi gak dimuat karena mungkin dan bisa jadi ada media yang terlalu kalem, main aman dan bahkan berpihak.. Jadi mungkin saja tidak dimuat :D, tapi gak semua media gitu, ada juga yang berani.. :D

Terus kalau udah dimuat itu ngaruh ya sama pemerintah? yaa kadang enggak juga sih, kalau kata a (seseorang yang sukanya dipanggil a tapi bukan ayufi :D) setidaknya, sebagai mahasiswa kita sudah menggugurkan kewajiban kita untuk mengingatkan wakil rakyat. 

Tuh, tapi bukan berarti aksi itu gak ngaruh lho, buktinya pas jaman orde baru mahasiswalah yang bergerak, mereka turun ke jalan, dan semua serentak menyuarakan suara yang sama, dan pada akhirnya Soeharto bisa tumbang, terus waktu mau kenaikan bbm dullu, aksi juga dimana-mana menyuarakan untuk tidak naik, nah kan akhirnya kebijakan untuk kenaikan bbm ditangguhkan. Dan Mahasiswa sebagai agent of change (katanya) bukan mitos belaka.

Kalau kata seorang kakak, selama kita sebagai mahasiswa setidaknya kita harus idealis, mumpung masih menjadi mahasiswa, nanti kalau sudah jadi pejabat belum tentu bisa idealis ..#eh tapi bener juga kan? 

Kenapa kita mesti bergerak? ibaratnya kalau kita diinjek ya kita mesti teriak, masak kita diinjek kita diem aja. Ya kan? Tapi, jangan kalau kita diinjek terus teriak, tapi balas nginjek yang lain itu baru gak boleh. Begitulah,,,tau kan maksud saya?

Mahasiswa itu berada di posisi strategis, bisa akses ke atas (pejabat) bisa juga akses ke bawah, jadi ya kalau bukan kita, siapa lagi yang mau menyuarakan suara rakyat? kalau bukan mahasiswa..iya ada sih wakil rakyat, ya kalau DPR sebagai wakil rakyatnya lupa, ya kita ingetin lagi dengan aksi tadi #hehhe

####

Kamis, 1 Agustus 2013 #diary
menyenangkan bisa kembali ikut aksi lagi sore itu, bersama ratusan orang, kecil, tua muda, berpakaian putih melakukan long march dari simpang lima sampai depan RRI, asyiknya itu bisa bebas kemana aja,, mumpung berperan sebagai media.. :D

*tulisan gak nyambung,, lah apa tujuannya,, terserah lah :P

aksi solidaritas #saveEgypt



Sayang sekali mau upload videonya gagal terus -_-"


ayufi
Semarang, 3 Agustus 2013

Komentar

Paling sering dibaca

The Gogons “James and the incredible incidents” by Tere Liye

Buku setebal 288 halaman terbitan Gramedia tahun 2006 ini kedua kalinya gue baca. Awal baca salah satu karya TERE LIYE ini, dulu sekali pas kira-kira aku masih SMP. Maklum, dari dulu gue emang gadis perpus banget lah (info kagak penting). Nah, dulu belum ngerti bener siapa itu Tere Liye.   Nah, pas kemarin liat-liat di perpus, gue liat buku itu. Nah, gue udah baca tuh buku, gue inget banget. Tapi lupa ceritanya, dan ternyata itu karya TERE LIYE.  Jenis novel itu adalah metropop. Jarang-jarang kan tere liye nulis jenis Metropop. Jadi gue baca lagi dan ternyata bagus. Meskipun buku ini adalah jenis metropop, dari dulu Tere Liye emang udah punya ciri khas. Meskipun di buku berjenis Metropop, itu pun masih Tere Liye banget. Dan ini buku yang gue sebut sebagai metropop sopan. Kenapa, yaa meskipun metropop, yang menceritakan tentang berbagai lika-liku permasalahan orang-orang metropolitan dengan segala life stylenya, bagi orang desa   nan sederhana kayak gue, life s...

Rejeki yang tersembunyi

sumber : google Rejeki itu bisa berupa apa saja. Diberi tetangga dan teman yang baik. Diberi kemudahan dalam urusan. Diberi kenikmatan tidur dan makan. Diberi bantuan tiba tiba ketika kita sangat membutuhkan. Itu semua rejeki menurut saya. Pernah baca dan kembali mengulang ceramah Ustad Salim A Fillah tentang rejeki. Rejeki itu bukan dari gaji. Gaji besar belum tentu itu adalah rejeki kita.  Seorang pengusaha dengan omset ratusan juta rupiah per bulan. Dia mampu beli kasur termahal dan ternyaman di dunia, tapi dia hanya bisa tidur di lantai dengan alas tiker buatan Muntilan. Dia diundang ke berbagai kota disewakan hotel yang mahal dan nyaman namun ketika tidur, ia membuka tas ranselnya dan mengeluarkan tiker lipet yang selalu dia bawa. Digelarlah tiker itu di lantai, dan tidurlah ia dengan lelap.Ya begitulah, rejekinya memang begitu.  Ada juga seseorang yang kaya raya bisa beli makanan apapun yang mahal dengan hartanya. Namun dia tidak bisa menikmatinya. Kena...

Selamat Datang 2019

2018 terasa kosong 2018 terasa hampa Tak ada pencapaian Karena tak ada yg ingin dicapai Tak seru Tak ada gairah Terasa flat Maka di tahun 2019 ini Harus punya target Harus punya keinginan kuat Terutama dalam hal ibadah Rumah di dunia ada Tapi merobohkan tempat tinggal di akhirat sana Padahal disanalah asal kita Kembali padanya Maka tak akan ada rasa kecewa Ibadah terasa biasa saja Karena tak ada cita cita Hanya Dia Yang bisa mencipta bahagia Hanya Dia yang bisa menghapus segala duka Mencegah semua bencana 2019 stop ghibah Perbanyak ibadah 2019 banyak senyum Kurangi manyun 2019 fokus usaha Hindari foya foya 2019 perbanyak baca Kurangi nonton drama 2019 harus lebih baiqq