Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Catatan Hati Seorang (Calon) Guru

Guru jadi Teman?

Sungguh mengejutkan ketika pertama kali aku mengabdikan diri di sekolah. Jaman memang sudah berubah, atau aku yang terlalu cupu bahwa memang sebenarnya hal hal macam itu sudah terjadi sejak lama. Hanya saja, aku beruntung tidak berada dalam lingkungan seperti. Seperti halnya manusia biasa, seorang guru pasti bukan manusia yang sempurna, Meskipun, tutur kata dan tingkah lakunya harus menjadi panutan. Banyak film yang mengajarkan bahwa guru haruslah menjadi teman dan sahabat muridnya.  Guru yang galak dan terlalu disiplin, seringnya malah akan membuat murid malas belajar. Guru yang menyenangkan dan membuat nyaman muridnya untuk bicara, mungkin akan banyak disukai muridnya. Namun, jangan lupa menekankan kepada siswa bahwa ada batasan antara murid dan guru, jarak yang terlalu dekat antara guru dan murid, (terlalu menganggap guru seperti teman sendiri) sehingga membuat murid kurang respek dan lebih berani dalam membantah. Itu jelas melukai posisi guru dimana guru ada...

Bahasa Inggris dan Martabat Orang Jawa

Seringnya, kalau aku mengajak muridku untuk bercakap-cakap menggunakan bahasa Inggris di luar kelas bahasa Inggris, ketika mereka tidak bisa merespon, maka mereka akan menjawab seperti ini, “aku wong jowo kok bu, dudu wong Inggris.” Aku tau, mereka bilang begitu karena tidak tau bagaimana merespon memakai bahasa inggris. Dan sesungguhnya, aku tidak suka jika ada yang berkomentar seperti itu. Aku sampaikan juga ke murid-muridku, bahwa meskipun kita orang jawa, bukan berarti kita tidak bisa bahasa inggris. Bukan berarti pula, dengan mempelajari bahasa Inggris, itu berarti kita mengkhianati ke Jawa-an kita. Maka, di kelas, aku khotbah ke mereka. Bahwa sesungguhnya, kita mempelajari bahasa Inggris, bukan karena nanti akan keluar ke ujian nasional. Lebih dari itu. Mempelajari bahasa Inggris itu karena kita ingin meningkatkan martabat kita, khususnya martabat orang jawa. Bukan berarti aku ingin memposisikan budaya asing lebih tinggi daripada budaya Jawa. Bukan, bukan seperti ...

A teacher ?

Menyempatkan menulis sebelum berangkat ke sekolah, Alih-alih membaca untuk mengerjakan revisi, aku membuka salah satu buku catatan.  Dan, menemukan beberapa rekaman kejadian sederhana tapi mengesankan, menemukan beberapa catatan-catatan nggak penting yang diduga aku menulisnya ketika aku dilanda suatu kebosanan penuh, menemukan pula catatan catatan berbau motivasi, ada pula catatan mengenai rancangan kisah cinta yang rumit yang aku imajnisikan yang nantinya akan aku hadirkan dalam novelku kelak (tapi gak pernah selesai-selesai *hadeh), dan ada banyak lagi, semua campur aduk. Entahlah, dari SD (mungkin TK), aku seringnya bermasalah dengan mengorganisir catatanku, ditambah tulisanku yang.. hmm.. well... bisa disebut artistik, saking artistiknya jadi terlihat seperti gambar abstrak yang terkadang sulit dipahami. Ah, sudahlah, bukan itu yang ingin aku bicarakan.  Berhubung, hari kemarin lagi rada bad mood dikantor, ditambah lagi dihari pertama mengajar di tahun 2015, a...

Catatan Hati Seorang (Calon) Guru - I

Note : Satu Setiap insan di dunia ini pasti mengalami perubahan. Sedikit banyak pasti berubah. Waktu berlalu begitu cepat. Kurang lebih empat tahun yang lalu, aku diantarkan ke kos. Ayah, ibu, Dimas, mbah Putri, Paman mengantarkanku waktu itu. Kalau dipikir lagi, sebenarnya sedikit berlebihan, apalagi rumahku tak begitu jauh dari rantauan. Tapi kemudian aku menyadari, bahwa itu adalah wujud rasa bahagia dan rasa kasih mereka terhadapku. Tak main-main, bersamaan dengan itu, tentu mereka memiliki harapan besar terhadapku, kelak akan menjadi orang yang berguna dan bisa memuliakan keluarga. Apalagi, dari sejarah keluarga ayah dan ibu, tak ada yang berhasil menuntut ilmu di perguruan tinggi sampai tuntas, dan menjadi sarjana. Kini hampir empat tahun berlalu. Mudah-mudahan tidak terlalu mengecewakan ayah dan ibu bahwa aku sampai detik ini, masih mengerjakan tugas akhir. Meski, ayah dan ibuku hanya mengerti bahwa putrinya masih harus ‘berurusan’ di kampus, namun tentu saja mereka ber...