Langsung ke konten utama

Postingan

Takdir dan Pak Hoak

Sejak sekolah dasar kita diajarkan bahwa takdir itu ada dua. Takdir yang bisa diubah dan takdir yang tidak bisa diubah. Takdir yang bisa diubah bisa diusahakan dan dikuatkan dengan doa. Takdir yang tidak bisa diubah seperti kematian, kelahiran, dan rejeki. Mengenai takdir, ini menarik. Takdir terungkap diujung usaha bukan. Kita diminta berusaha semampu kita hingga takdir terungkap. jadi, takdir itu harus dijemput. Mengenai takdir, mungkin sudah takdir bahwa skenario ini akan terjadi. Menarik, karena dampaknya tak akan disangka akan sebegitu besar. Mengenai kejadian, di kota Jakarta, mengenai seorang gubernur, sebut saja namanya bapak Hoak. Sudah jadi rahasia publik bahwa pejabat yang satu ini memang membawa perubahan yang dirasa positif bagi rakyatnya. Sehingga, keburukannya pun tertutupi oleh hal-hal baik yang dilakukannya. Ini permasalahan akhlak. Seperti yang diketahui banyak orang, bahwa bapak yang satu ini dikenal dengan gaya bicaranya yang to the point bahkan  cender...

Anggap aja seperti kent** 😷

Mungkin kalian sudah sering mendengar tentang kisah teladan ini. Dikisahkan ada seorang bapak dan anak yang menaiki seekor unta. Kemudian di tengah perjalanan seseorang berkata. " Itu gak kasian apa ya, unta sekecil itu dinaikin dua orang. " Sang ayah yang mendengar komentar itu lalu turun dari unta. Dia berpikir, dengan begitu dia akan mengurangi beban unta. Sehingga hanya sang anak yang menaiki unta dan sang ayah menuntunnya. Kemudian mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan. Ditengah perjalanan, seseorang berkata, "Anak macam apa itu? Masa ayahnya yang sudah tua disuruh berjalan menuntun unta." Mendengar komentar itu, sang ayah kemudian meminta anaknya untuk turun dan bertukar posisi dengannya. Sehingga sekarang sang ayah menaiki unta dan sang anak yang berjalan menuntun unta. Kemudian di tengah perjalanan, seseorang berkata, "Astaga, ayah macam apa itu yang tega meminta anak sekecil itu untuk berjalan sedangkan dia sendiri enak enakan naik unt...

The reflection of life

Have you ever imagined how was your life before you was born? We were alive about 5 months inside our mother's tummy. In our mother's womb we were alive for the very first step of life. At the time, do we able to imagine how the world is? And, after we were born in the world absolutely we also forgot the feeling of being alive in mother's womb. What about 5 months ( why 5 months not 9 months? Because Allah writes our complete fate of our word life in the 4th month. Moreover, Allah gives us the soul) we were alive in form of fetus. 5 months is so fast right? So does, our life in this world is so fast. Because we never knew where we should go to the next step of life. Well, live in this wolrd is the second step of our life. We also can not imagine how and when our life will end in this world. After we die, where will we go? Is it really the end of our life? Yes, it is the end of our life in the world but no, it is not the really end of our life. We just go to the next st...

Nona, sibuk apa sekarang?

Kamu mungkin mengira aku sosok yang berbeda. Tapi, aku masih sama. Tapi, aku tidak menyangkal adanya perubahan. Yah, time flies and people change. We grow older. We past our time with different people and circumtances. Ya, sudah pasti ada yang berubah untuk menyesuaikan dengan keadaan sekitar, menyesuaikan dengan usia yang setiap detik semakin tua. Setelah menempuh hidup baru dan menjalani masa masa menjadi seorang istri pemikiranku tanpa bisa aku cegah berubah sedikit demi sedikit.  Kupikir, dulu membayangkan setelah menikah aku akan sangat senang jika aku bisa melakukan perjalanan ke berbagai tempat bersamanya. Tapi, sekarang setelah benar benar merasakan hidup bersamanya, aku tak begitu menginginkan itu. Cukup bersamanya meskipun cuma jalan ke taman atau menghabiskan waktu di rumah membaca buku, itu sudah sangat menyenangkan. Kamu mungkin mengira aku gombal, seperti yang aku pikirkan dulu. Masa sih bisa gitu? Sekarang, aku merasakannya sendiri. Aku lebih melupakan keing...

Hiu dan Nelayan 2

Saya pernah menceritkan tentang kisah seorang nelayan yang memasukkan ikan hiu kecil dalam bak tangkapan ikannya. Tujuannya bukan untuk memberi kesenangan berlimpah pada ikan hiu dengan memberinya ikan. Melainkan, agar ikan tangkapan itu tetap hidup dan segar ketika sampai di daratan. Kenapa justru ikan tangkapan itu bisa tetap hidup meskipun nelayan sengaja meletakkan bahaya dimakan ikan hiu dalam baknya? Karena, di dalam bak itu ikan ikan akan terus berjuang berlari dari kejaran hiu. Justru bahaya itu yang menyebabkan ikan ikan tetap hidup. Nelayan itu sengaja meletakkan hiu di dalam bak tangkapannya karena ia melihat sebelumnya, ikan hasil tangkapannya selalu dalam kondisi tidak segar bahkan mati ketika sampai di daratan. Ikan hiu tersebut ibarat masalah. Dan ikan ikan tangkapan itu adalah kita. Kita tidak akan bisa hidup dengan baik kalau sepanjang hidup kita tidak ada masalah yang membuat kita berjuang, berusaha dan berpikir. Sebesar apapun masalahmu, jangan pernah menyerah...

Seri : Menunggu

Empat ratus lima puluh kilometer lebih, Seratus hari, Jarak dan waktu bisa mengubah segalanya. Semua bisa terjadi. Begitu juga, hati bisa goyah karena jarak dan waktu.  Beruntung kita sudah terbiasa dengan jarak dan waktu. Maka, menjelang hari-hari menunggu hari besar itu pun terasa biasa saja. Memilih untuk tetap merahasiakan semuanya sebelum acara akbar itu terjadi adalah pilihan yang tepat. Seperti yang aku bilang, segalanya bisa terjadi. Hati bisa goyah. Keputusan bisa berubah. Jika sudah terkabar kepada manusia maka akan makin sulit hati ini menangani reaksi mereka. Maka merahasiakan kepada makhluk bumi adalah tepat.  Hanya kepada Allah saja, aku mungkin juga kamu berdoa untuk mewujudkan rencana itu. Jakarta, 2 September 2016

Tidak Terdefinisi

Telah lama tak bersua dalam tulisan. Aku begitu rindunya untuk menuangkan segala gegap gempita kehidupan baru yang aku jalani sekarang. Tapi, tak seperti yang diharapkan untuk membagi pengalaman dan pikiran yang sudah lama tersimpan. Cerita demi cerita tersimpan dalam kenangan yang bisa jadi akan dilupakan. Menyimpan dalam tulisan, seperti dahulu kala adalah suatu pelarian yang menghibur, namun terlalu banyak cerita yang terlewat, hingga aku tak tau harus mulai dari mana cerita ini. Wahai rumah kedua yang telah lama ditinggalkan. Sekiranya, aku mampu mengatasi semua waktu maka, aku ingin sekali membagi setiap cerita. Baiklah, selamat datang kembali menulis. Jakarta, 24 Agustus 2016