Bismillah...
Ini bulan Juni. Artinya apa? Tiada yang lebih indah selain hujan di bulan Juni? Bukan. Bulan Juni bagi emak-emak artinya waktunya perpisahan sekolah anak (kalau sudah selesai), pendaftaran ke sekolah baru, dari TK ke SD, SD ke SMP, SMP ke SMA, SMA ke Universitas, juga kenaikan kelas.
Intinya bulan Juni dan Juli ini biaya yang dikeluarkan tentu lebih banyak dari biasanya. Meskipun bisa disiapkan sebelumnya. Nah, aku mau cerita tentang sebuah sekolah TK swasta islam dimana mereka menarik uang kenang-kenangan. Ya, ini adalah sekolahnya anakku. Sebenarnya sangat wajar dan jumlahnya juga tidak terlalu besar. Tapi, sayang sekali sekolah itu tidak memiliki komite yang benar-benar bekerja, sebab sekolah tersebut seperti tidak mau orang tua terlibat soal urusan sekolah. Hampir semua keputusan yang seharusnya juga melibatkan orang tua itu diputuskan yayasan sendiri.
Ketika kami beberapa yang bertanya, kenang-kenangannya mau dibelikan apa? Yayasan menjawab itu untuk pembangunan atau sarpras. Nah, setauku sarpras atau uang bangunan itu kami sudah membayarkan. Jadi, kami orang tua maunya kenang-kenangan seharusnya dibelikan benda dimana benda tersebut adalah benda yang dibutuhkan sekolah.
Esensi dari kenang-kenangan adalah agar para guru dan sekolah bisa mengenang angkatan kami begitu mereka menggunakan benda tersebut. Maksud kami kayak gitu karena sekolah menarik dengan kata uang kenang-kenangan.
Ketika kami kejar kejelasan, uang itu mau dibelikan apa yang spesifik. Yayasan seolah olah menuduh kami, orang tua yang bertanya tidak ikhlas dan terkesan ikut campur urusan keuangan yayasan. Aku juga berpikir, apakah salah jika kami bertanya uang kenang-kenangan itu? Sedangkan, seharusnya ranah kenang-kenangan itu pun harus dirapatkan bersama wali murid. Lalu akhirnya, kami diberi kesempatan untuk bertemu langsung ke sekolah untuk membicarakan masalah ini. Tapi, apa yang terjadi? Yayasan menyamakan uang infaq yang ditarik secara suka rela dengan uang kenang-kenangan ini. Yayasan juga terkesan memojokkanku ketika aku berusaha mengutarakan apa yang dipikiranku. Aku baru menjelaskan pembukaan tentang perbedaan infaq, uang sarpras dan kenang-kenangan, sudah dipotong, disela terus penjelasannya sampai akhirnya mereka memutuskan pertemuan itu harus diakhiri saja karena anak anak sudah waktunya pulang, padahal aku belum selesai menjelaskan, belum full menyelesaikan kesalah pahaman. Maka, keputusan pun jadi nggantung, dan dilanjut dengan ditembak pertanyaan satu-satu, "bapak ibu ikhlas gak kalau kenang-kenangan dibuat pembangunan?" orang tua jelas bilang iya, tapi ga tau dalam hatinya.
Padahal aku sudah memberikan solusi ditengah penjelasan yang dipotong-potong tersebut, kalau mereka tetap ingin menggunakan uang itu sebagai uang pembangunan sebaiknya jangan menarik dengan kata kenang-kenangan, tulis saja uang sumbangan pembangunan kelulusan.
Aku pun merasa, kok gini sih?
Kesalahan sekolah menurutku :
1. Tidak pernah melibatkan orang tua soal kenang-kenangan, sekalipun mereka tidak mau ribet melibatkan orang tua, setidaknya mereka bisa menjelaskan ketika orang tua bertanya. Uang kenang-kenangan sifatnya hadiah atau apresiasi buat sekolah, beda fungsi dengan uang sarpras dan pembangunan. Apalagi sekolah swasta harus lebih transparan kepada orang tua, apa jadinya sekolah tanpa orang tua yang mendaftarkan ke sekolah itu?
2.Seolah olah menuduh orang tua yang bertanya ikut campur urusan sekolah, dan membuat seolah olah orang tua tidak ikhlas. Itu adalah bentuk tekanan moral dan manipulatif dari pihak yayasan, yang seolah-olah membuat orang tua, yang bertanya tentang uang kenang-kenangan itu tidak ikhlas, dan meskipun sekolah akhirnya membuat keputusan bahwa dengan alasan menjaga keikhlasan, orang tua boleh tidak membayar uang kenang-kenangan.
Jujur itu pun janggal. Janggal karena tidak semua kelas dapat info keputusan tersebut, karena kelas kami yang banyak bertanya, jadi mungkin hanya kelas kami saja yang dapat kebijakan itu. Mereka lagi-lagi menekan moral dengan kata "menjaga keikhlasan", membuat kami seolah-olah kalau kamu protes, gak setuju uang kenang-kenangan buat pembangunan, gak usah bayar gpp dan itu berarti kamu gak ikhlas mengeluarkan uang seratus ribu aja...
Intinya sekolah merasa menarik uang atas nama kenang-kenangan tapi untuk pembangunan itu adalah hal yang benar dan orang tua yang tidak nurut itu salah.
3. Secara hukum sekolah melanggar undang undang
Secara hukum, sekolah swasta boleh menerima sumbangan untuk pembangunan, tetapi tidak boleh memaksa orang tua dengan pungutan wajib yang disamarkan sebagai “uang kenang‑kenangan.” Jika sifatnya wajib dan ditentukan jumlahnya, itu tergolong pungutan, dan bisa melanggar aturan Permendikbud No. 44 Tahun 2012. (detik com)
4. Menyamakan uang kenang-kenangan dengan uang infaq dan juga uang sarpras.
Aku bilang begitu karena, yayasan berulang kali menyinggung beberapa orang yang berinfaq ke sekolah senilai sekilan puluh juta itu pun tidak ada yang bertanya dan mempersoalkan tentang uang tersebut. Maka disini pun yayasan harusnya tau, kalau infaq itu sifatnya sukarela, orang yang memberikan uang infaq akan tidak mempertanyakan mau buat apa, begitu pun uang sarpras, uang sarpras adalah kewajiban bagi wali murid, jadi kami pun tidak mempertanyakan uangnya apakah sudah sesuai apa belum. Kita tidak bertanya tentang spp, gaji guru dan lain lain. Tapi beda dengan uang kenang-kenangan yang ditarik dari sekolah, sudah ditentukan jumlahnya, itu adalah biaya yang tidak wajib yang sifatnya hadiah dan kita berhak tau.
Kasus in sebenarnya bisa kami laporkan, tapi sungguh sejujurnya aku tidak tega. Jujur aja pendidikan di sekolah ini bagus, guru-gurunya juga bagus dan telaten, anakku pun mendapatkan banyak hal baik di sekolah tersebuat, maka aku sungguh tidak tega kalau harus melaporkan kasus ini ke dinas pendidikan. Kekurangannya di yayasan, yang kurang berkomunikasi dengan orang tua. Yayasan belum merespon usulan, masukan dan kritikan dengan cara yang baik yang bisa melegakan orang tua. Kami yang bertanya dibuat seolah olah kami yang salah, kami tidak nurut, kami ikut campur dan tidak ikhlas. Itu yang aku rasakan ketika bertanya tentang uang kenang kenangan.
Mudah-mudahan kedepannya ada perbaikan di sekolah tersebut. Aku tidak menyesal anakku sekolah di sana, sangat bagus untuk pendidikan anak anak. Tapi tidak disarankan sekolah di sana kalau kamu orang tua yang kritis dan suka bertanya.
Ambarawa, 10 Juni 2026
Komentar
Posting Komentar
I will be happy reading your comment and response. Tell me what you think please :D