Langsung ke konten utama

Wanita Mencipta Peradaban (wuiih) :D

Tadi siapa yang bilang? Laki-laki datang dari Mars, dan wanita datang dari Venus. Aku jadi penasaran, mengapa demikian? Itu tadi pendapat John Gray (kalau tidak salah).

Lebih jauh, aku ingin mengungkapkan pendapatku sendiri. Tentang emansipasi wanita. Emansipasi seperti apa yang harus kita harapkan di jaman sekarang. Dulu mungkin (sekali lagi mungkin) Kartini memperjuangkan persamaan hak wanita karena dahulu, wanita (yang bukan) keturunan ningrat, tidak diperbolehkan untuk belajar. Jelas, ini tidak adil. Aku setuju.
Tapi sekarang? Emansipasi seperti apa yang harus diharapkan lagi? Bukankah sekarang wanita bisa belajar setinggi mungkin? Menurutku, point itu saja yang harus digaris bawahi bahwa wanita memang butuh pendidikan. Pendidikan yang layak dan kalau bisa pendidikan yang tinggi.

Kau tau? Wanita belajar setinggi mungkin bukan untuk menyaingi pria. Bukan gaji yang tinggi, atau jabatan yang tinggi yang ingin dicapai. Berbeda dengan pria, yang (mungkin saja) menempuh pendidikan tinggi (salah satunya) untuk mendapat kehidupan yang layak dengan gaji yang tinggi. Tapi wanita menempuh pendidikan tinggi, karena wanita sedang menciptakan generasi yang baik.

Menurutku, meskipun nantinya seorang wanita yang ber title S3 dia hanya akan menjadi seorang ibu rumah tangga saja, bukanlah hal yang sia-sia pendidikannya. Kecerdasan, dan ilmu yang dia tuntut selama ini secara tidak langsung akan nurun ke keturunannya kelak. Anaknya kelak akan memiliki mental yang tidak biasa (pada dasarnya). Sehingga, bukanlah sia-sia seorang wanita belajar dan memiliki pendidikan tinggi. Orang yang berpendidikan seharusnya tau lebih banyak bagaimana membentuk generasi yang lebih baik.
Mengingat, wanita, yang nantinya menjadi seorang ibu, adalah madrasah pertama bagi anak. Penting bagi seorang wanita untuk tahu ilmu mendidik anak. 

Kalau kata cak lontong :
Mendidik wanita sama saja dengan mendidik keluarga.


Semarang, 12 Mei 2014
23:06

Ditengah mengerjakan (revision) skripsi

Komentar

Paling sering dibaca

The Gogons “James and the incredible incidents” by Tere Liye

Buku setebal 288 halaman terbitan Gramedia tahun 2006 ini kedua kalinya gue baca. Awal baca salah satu karya TERE LIYE ini, dulu sekali pas kira-kira aku masih SMP. Maklum, dari dulu gue emang gadis perpus banget lah (info kagak penting). Nah, dulu belum ngerti bener siapa itu Tere Liye.   Nah, pas kemarin liat-liat di perpus, gue liat buku itu. Nah, gue udah baca tuh buku, gue inget banget. Tapi lupa ceritanya, dan ternyata itu karya TERE LIYE.  Jenis novel itu adalah metropop. Jarang-jarang kan tere liye nulis jenis Metropop. Jadi gue baca lagi dan ternyata bagus. Meskipun buku ini adalah jenis metropop, dari dulu Tere Liye emang udah punya ciri khas. Meskipun di buku berjenis Metropop, itu pun masih Tere Liye banget. Dan ini buku yang gue sebut sebagai metropop sopan. Kenapa, yaa meskipun metropop, yang menceritakan tentang berbagai lika-liku permasalahan orang-orang metropolitan dengan segala life stylenya, bagi orang desa   nan sederhana kayak gue, life s...

Rejeki yang tersembunyi

sumber : google Rejeki itu bisa berupa apa saja. Diberi tetangga dan teman yang baik. Diberi kemudahan dalam urusan. Diberi kenikmatan tidur dan makan. Diberi bantuan tiba tiba ketika kita sangat membutuhkan. Itu semua rejeki menurut saya. Pernah baca dan kembali mengulang ceramah Ustad Salim A Fillah tentang rejeki. Rejeki itu bukan dari gaji. Gaji besar belum tentu itu adalah rejeki kita.  Seorang pengusaha dengan omset ratusan juta rupiah per bulan. Dia mampu beli kasur termahal dan ternyaman di dunia, tapi dia hanya bisa tidur di lantai dengan alas tiker buatan Muntilan. Dia diundang ke berbagai kota disewakan hotel yang mahal dan nyaman namun ketika tidur, ia membuka tas ranselnya dan mengeluarkan tiker lipet yang selalu dia bawa. Digelarlah tiker itu di lantai, dan tidurlah ia dengan lelap.Ya begitulah, rejekinya memang begitu.  Ada juga seseorang yang kaya raya bisa beli makanan apapun yang mahal dengan hartanya. Namun dia tidak bisa menikmatinya. Kena...

Selamat Datang 2019

2018 terasa kosong 2018 terasa hampa Tak ada pencapaian Karena tak ada yg ingin dicapai Tak seru Tak ada gairah Terasa flat Maka di tahun 2019 ini Harus punya target Harus punya keinginan kuat Terutama dalam hal ibadah Rumah di dunia ada Tapi merobohkan tempat tinggal di akhirat sana Padahal disanalah asal kita Kembali padanya Maka tak akan ada rasa kecewa Ibadah terasa biasa saja Karena tak ada cita cita Hanya Dia Yang bisa mencipta bahagia Hanya Dia yang bisa menghapus segala duka Mencegah semua bencana 2019 stop ghibah Perbanyak ibadah 2019 banyak senyum Kurangi manyun 2019 fokus usaha Hindari foya foya 2019 perbanyak baca Kurangi nonton drama 2019 harus lebih baiqq